Tampilkan postingan dengan label KTI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KTI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Mei 2020

Laporan Penelitian dan Analisis TK

Pendidikan anak usia dini merupakan pendidikan yang diselenggarakan untuk mengembangkan keterampilan yang merupakan pendidikan dasar serta mengembangkan diri secara utuh sesuai dengan asas pendidikan sedini mungkin dan sepanjang hayat. Aspek yang dikembangkan dalam pendidikan anak usia dini adalah aspek pengembangan pembiasaan meliputi sosial, emosi, kemandirian, moral, dan nilai-nilai agama, serta pengembangan kemampuan dasar yang meliputi pengembangan bahasa, kognitif, dan fisik motorik Bredekamp & Copple, menurut Tadkiroatun Musfiroh (2008: 4).

UU Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Bab Pasal 1 Ayat 14 tertulis bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Bab II Pasal 3 Undang Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional ditetapkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan keterampilan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa pada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Hal ini berarti bahwa peletakan proses pendidikan di Taman Kanak-kanak harus benar dan sesuai dengan karakter pertumbuhan dan perkembangan menuju pertumbuhan optimal. Apabila tidak dikembangkan dengan baik dan benar akan menyebabkan penyimpangan terhadap tumbuh kembang anak dan akan sulit untuk diperbaiki. 

Taman Kanak-kanak tergolong ke dalam jalur pendidikan formal yaitu pendidikan yang diselenggarakan untuk anak usia 4-6 tahun. Anak usia 4-6 tahun termasuk dalam usia keemasan (golden age), pada usia ini anak mempunyai daya serap yang luar biasa apabila terus diberikan stimulasi sesuai tahap perkembangannya sehingga pada usia ini lima aspek perkembangan anak harus dioptimalkan semaksimal mungkin. Kelima aspek perkembangan itu adalah aspek kognitif, bahasa, fisik motorik, nilai moral agama dan sosial emosional.

Kemampuan fisik motorik sangat penting untuk menunjang kelangsungan hidup sehari-hari oleh karena itu kemampuan fisik motorik anak usia dini harus dikembangkan sejak usia dini baik kemampuan motorik kasar maupun kemampuan motorik halus. Menurut artikel yang ditulis (Lolita Indraswari, 2012: 2) motorik kasar memerlukan koordinasi kelompok otot- otot tertentu anak yang dapat membuat mereka melompat, memanjat, berlari, menaiki sepeda. Sedangkan menurut artikel yang ditulis oleh (Marliza, 2012) Perkembangan gerakan motorik halus anak taman kanak-kanak ditekankan pada koordinasi gerakan motorik halus dalam hal ini berkaitan dengan kegiatan meletakkan atau memegang suatu objek dengan menggunakan jari tangan.

Anak usia dini yang berusia 2-5 tahun memiliki energi tinggi. Energi yang dibutuhkan untuk melakukan berbagai aktivitas yang diperlukan dalam meningkatkan keterampilan fisik, baik yang berkaitan dengan keterampilan motorik halus, seperti menggunting dan menempel, membentuk atau memanipulasi dari tanah liat/lilin/adonan, menggambar, mewarnai, memotong, merangkai benda dengan benang (meronce). Aktivitas keterampilan motorik halus anak Taman Kanak-kanak bertujuan untuk melatihkan keterampilan koordinasi motorik anak diantaranya koordinasi antara tangan dan mata yang dapat dikembangkan melalui kegiatan bermain (Sumantri, 2005: 145)

Berdasarkan pengamatan di TK Daruttaqwa NW Aikmel, keterampilan motorik halus belum begitu berkembang. Beberapa anak menunjukkan keterlambatan dalam keterampilan motorik halusnya terutama menggunting dan mewarnai, yang ditandai dengan belum terampilnya anak dalam menggunting dan mewarnai. Dari 20 anak tercatat sebanyak 11 anak yang masih belum tepat dalam menggunting sesuai garis atau belum mengikuti garis batas. Ada 9 anak yang cara memegang guntingnya belum benar dengan menggunakan dua jarinya saja sehingga hasil guntingannya kurang ada penekanan dan kertas yang digunting sulit untuk diguntingnya. Ada anak yang cepat selesai mengguntingnya sehingga hasilnya masih kurang rapi dan asal-asalan, dan adapula anak yang mengerjakannya dengan mampu dan terampil sehingga hasilnya sesuai harapan. Untuk kasus mewarnai 17 anak sudah mampu mewarnai dengan baik sedang 3 anak lainnya masih belum memapu mewarnai dengan baik 

Kasus tersebut di atas menyebutkan bahwa anak mengalami kesulitan dalam pengembangan motorik halus, dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti pengembangan keterampilan anak usia dini seringkali terabaikan atau dilupakan oleh orang tua, pembimbing atau bahkan guru sendiri. Faktor penyebab yang lain yaitu lemahnya koordinasi mata dan otot-otot tangan.

Berdasarkan uraian diatas masa perlu dilakukan penelitian mendalam terkait dengan upaya Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Melalui Kegiatan Menggunting dan Mewarnai Di TK Daruttaqwa NW Aikmel Kecamatan Aikmel Kabupaten Lombok Timur
Fokus Penelitian, Setelah diadakan observasi di TK Daruttaqwa NW Aikmel Barat maka penelitian ini difokuskan pada Upaya Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Melalui Kegiatan Menggunting dan Mewarnai Di TK Daruttaqwa NW Aikmel Kecamatan Aikmel Kabupaten Lombok Timur

Laporan Penelitian dan Analisis TK

Tujuan dari penelitian ini yaitu: untuk meningkatkan kemampuan motorik halus melalui kegiatan menggunting dan mewarnai di TK Daruttaqwa NW Aikmel Kecamatan Aikmel Kabupaten Lombok Timur.
Manfaat penelitian ini antara lain :
1. Bagi pendidik
  • Menambah pengetahuan dalam menggunakan variasi metode pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan motorik halus.
  • Meningkatkan keterampilan guru dalam mengembangkan dan melaksanakan pembelajaran yang bervariasi.
  • Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan dapat dijadikan bahan kajian bagi para pembaca, khususnya untuk mendukung perkembangan anak dalam meningkatkan keterampilan motorik halus melalui kegiatan menggunting dan mewarnai.
2. Bagi lembaga TK
  • Dapat meningkatkan mutu pendidikan;
  • Menghasilkan anak didik yang kompeten;
  • Penelitian ini sangat bermanfaat untuk kegiatan membentuk motorik halus anak dalam kegiatan menggunting dan mewarnai.
  • Referensi pengembangan pembelajaran dalam mengoptimalkan kemampuan kegiatan belajar mengajar serta memperbaiki  proses  pembelajaran di sekolah
3. Bagi Anak didik
  • Anak didik dapat mendapatkan pengalaman langsung mengenai teknik menggunting dengan berbagai media lainnya.
  • Kegiatan mewarnai dapat dilaksanakan di TK Daruttaqwa NW Aikmel dengan alat yang berbeda sehingga aspek perkembangan anak dapat tercapai. 
  • Mempersiapkan anak didik untuk memasuki jenjang sekolah selanjutnya melalui stimulasi kemampuan motorik halus dengan kegiatan menggunting dan mewarnai yang telah diberikan.
Analisis kritis penelitian yang berjudul Upaya Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Melalui Kegiatan Menggunting Dan Mewarnai Di TK Daruttaqwa NW Aikmel Kecamatan Aikmel Kabupaten Lombok Timur yaitu:
Pendidikan merupakan saha sadar yang dilakukan oleh pendidik melalui bimbingan, pengajaran dan latihan untuk membantu peserta didik mengalami proses diri ke arah tercapainya pribadi yang dewasa. Sehingga diharapkan pendidik dapat melakukan bimbingan serta pengajaran pada peserta didik hingga pada akhirnya peserta didik menjadi pribadi yang baik dan berwawasan. Guru hendaknya lebih kreatif, inovatif, terampil, berani berinisiatif serta memiliki kemampuan professional dalam pengelolan kelas. Selain itu, pimpinan lembaga pendidikan juga diharapkan memberdayakan guru dengan program-program latihan sehingga mereka mampu mengembangkan model-model pengajaran secara variatif salah satunya adalah dengan kegiatan menggunting dan mewarnai.

Berdasarkan analisis yang dilkakukan sebenarnya sudah baik, namun meningkatkan motorik halus anak, khususnya dalam kegiatan menggunting hanya berkisar pada kegiatan menggunting sesuai pola di majalah. Guru belum menggunak dan media lain yang lebih variatif dalam kegiatan menggunting sehingga anak kurang antusias dan mengakibatkan kurang optimalnya perkembangan motorik halus. Dengan adanya proses belajar yang sperti ini, maka anak kurang  menguasai materi yang diajarkan oleh guru, terutama dalam meningkatkan motorik halus. 

Adapun langkah langkah penggunaan yang digunakan dalam upaya meningkatkan motorik halus melalui kegiatan menggunting dan mewarnai adalah sebagai berikut: 
  1. Menertibkan ruang atau kondisi kelas yang ramai agar kondusif, sebab ini sangat mempengaruhi konsentrasi anak dalam melakukan kegiatan menggunting maupun mewarnai
  2. Menguji kemampuan dalam menggerakkan jari jemari dalam memegang gunting serta dapat menggunting dengan luwes mengikuti pola dengan tepat.
  3. Menguji tingkat kemampuan anak dalam memilih warna yang tepat dalam mengikuti pola gambar sesuai warna yang telah ditentukan baik.
  4. Kegiatan mewarnai dimulai dengan memperlihatkan gambar yang akan diwarnai dengan pensil warna maupun pewarna yang digunakan kemudian guru memberikan contoh terlebih dahulu untuk mencampur warna misal kuning dicampur merah menjadi orange dan menyampaikan aturan selama kegiatan mewarnai dilakukan seperti tidak berebut pewarna, tidak mencolekkan pewarna di baju milik teman dan saling membantu bila teman membutuhkan bantuan. 
  5. Guru membagikan pewarna dan gambar yang akan diwarnai pertama kali pada kelompok yang paling rapi. Jika sudah mendapatkan semua maka kegiatan mewarnai boleh dimulai. Kegiatan dilakukan dengan pembagian tugas antara peneliti dan guru. Peneliti mendokumentasikan proses ketika anak-anak sedang mewarnai dan guru memberikan motivasi dan arahan kepada anak.
  6. Dari hasil tindakan diatas beberapa anak sudah terlihat mengalami peningkatan dari pada sebelumnya, beberapa anak sudah tidak monoton dalam menggerakkan pergelangan tangannya yaitu anak sudah mampu menggerakkan beberapa gerakan pergelangan tangannya serta mampu memilih jenis warna yang sesuai dengan tuntunan gambar.
Analisis kritis berkaitan dengan data kualitatif, yakni mencakup kegiatan untuk mengungkap kelemahan dan kelebihan kinerja anak dan guru dalam proses pembelajaran berdasarkan kriteria normatif. Hasil analisis tersebut dijadikan dasar dalam perencanaan tindakan untuk tahap berikutnya. Kegiatan menggunting dan mewarnai pada penelitian ini dilaksanakan dalam beberapa tahapan pertama melakukan penetiban kondisi kelasa agar lebih kondusif, kemudian melakukan uji tingkat kemampuan baik menggunting maupun mewarnai, selanjutnya memperlihatkan hasil pekerjaan menggunting dan mewarnai secara berulang ulang.

Dari hasil kegiatan menggunting dan mewarnai dapat diterik sebuah kesimpulan sesuai teori terkait dengan tujuan dari kegiatan menggunting dengan berbagai media dimana kegiatan menggunting dengan berbagai media dapat melatih motorik halus anak, melatih kelenturan jari, meningkatkan koordinasi otak, mata dan tangan, melatih ketelitian, melatih kesabaran anak (Mistriyanti, 2012:1). Selain itu juga keterampilan motorik halus (fine motor skill) merupakan keterampilan yang memerlukan kemampuan untuk mengontrol otot-otot kecil atau halus untuk mencapai pelaksanaan keterampilan yang berhasil (Mahendra Sumantri, 2005:143). Berikutnya, kegiatan mewarnai dilaksanakan secara berulang-ulang untuk mencapai hasil yang maksimal dan disesuaikan dengan perkembangan anak. Hal tersebut sesuai pendapat Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menegah (2007: 11) yang menyatakan bahwa pengembangan motorik halus dilakukan secara bertahap serta berulang-ulang sesuai kemampuan anak.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah di lakukan menunjukan bahwa melalui kegiatan menggunting dan mewarnai mampu meningkatkan halus anak pada TK Daruttaqwa NW Aikmel sehingga dapat di tarik kesimpulan bahwa :
  1. Proses pembelajaran dengan kegiatan menggunting yang dilakukan mampu meningkatkan keterampilan motorik halus anak, hal ini terlihat dari ketepatan anak dalam menggunting sesuai pola dan secara bergantian menceritakan proses atau langkah-langkah menggunting di depan kelas.
  2. Kemampuan motorik halus melalui kegiatan mewarnai yang dilaksanakan sudah sangat baik yaitu siswa bisa memegang alat mewarnai menggunakan dua jari telunjuk dan ibu jari dengan posisi jari berada di tengah-tengah serta cara memegang yang sudah terampil, bisa menggerakkan pergelangan tangan ke kanan dan ke kiri, ke atas dan ke bawah serta secara memutar dan bisa mewarnai dengan tidak keluar garis, penuh serta rapi. 
  3. Kemampuan motorik halus anak mengalami peningkatan setelah pelaksanaan kegiatan menggunting dan mewarnai gambar yang dilakukan di TK Daruttaqwa NW Aikmel dapat meningkatkan antusiasme yang tinggi pada anak melalui kegiatan menggunting dan mewarnai anak belajar tentang kemampuan awal memegang, menulis sehingga dari kemampuan memegang alat, mewarnai, menggerakkan pergelangan tangan dan koordinasi antara mata, tangan sangat berguna dalam meningkatkan motorik halus anak.
Sumber/Peneliti :  QUDSIAH dengan judul : Upaya Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Melalui Kegiatan Menggunting Dan Mewarnai Di TK Daruttaqwa NW Aikmel Kecamatan Aikmel Kabupaten Lombok Timur. Untuk mendapatkan contoh filenya dapat diunduh DISINI FILE  atau dibawah ini http://1safe.link/f0j19


Kamis, 07 Mei 2020

Laporan Penelitian dan Analisis TPA

Salah satu aspek perkembangan anak khususnya perkembangan fisik motorik sangat penting untuk melatih koordinasi gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh. Aspek perkembangan motorik diantaranya motorik kasar dan motorik halus. Motorik kasar menekankan pada koordinasi tubuh pada gerakan otot-otot besar seperti melompat, berlari dan berguling, sedangkan motorik halus menekankan koordinasi otot tangan atau kelenturan tangan contohnya menulis, menggambar dan memegang sesuatu dengan ibu jari dan telunjuk. Secara umum, aspek fisik motorik kasar akan berkembang lebih dahulu dari pada aspek motorik halus. Oleh karena itu, diperlukan stimulasi agar aspek motorik kasar dan halus dapat berkembang secara seimbang sehingga anak tidak hanya mampu berlari, melompat, menendang  tetapi  keterampilan  motorik halus seperti menulis  dan menggambar juga terasah dengan baik. 

Adapun unsur kemampuan motorik halus yang sangat penting untuk distimulasi yaitu keterampilan dalam menggunakan jari tangan untuk bermain salah satunya adalah bermain boneka. Perkembangan motorik sangat penting untuk mendukung pengembangan aspek kognitif, sosial, dan emosional anak melalui kegiatan bermain. Selain itu, pengembangan motorik anak juga akan berpengaruh pada kesiapan anak dalam melakukan berbagai kegiatan di TPA XXXXXX  Desa ZZZZZZZ Kecamatan BBBBBB Kabupaten Lombok Timur. 

Berdasarkan Permendiknas Nomor 58 Tahun 2009, anak usia 4-5 tahun idealnya telah mampu: (1) membuat garis vertikal, horizontal, lengkung kiri/kanan, dan lingkaran, (2) menjiplak bentuk, (3) mengkoordinasikan mata dan tangan untuk melakukan gerakan yang rumit, (4) melakukan  gerakan manipulatif untuk menghasilkan suatu bentuk dengan menggunakan berbagai media, dan (5) mengekspresikan diri dengan berkarya seni menggunakan berbagai media. 

Berdasarkan hasil pengamatan penulis, anak-anak pada TPA XXXXXX masih menemui hambatan dalam kemampuan motorik diantaranya  anak lebih memilih kegiatan bermain di luar dari pada  mengikuti kegiatan yang melibatkan koordinasi jari-jari tangan sehingga anak-anak  sering kali tidak menyelesaikan kegiatan, maka perlu inisiatif guru untuk menggunakan kegiatan berbagai media untuk meningkatkan kemapuan motorik halus anak salah satunya adalah membentuk dengan berbagai media . 

Dari hasil pengamatan guru, ada 3 anak yang bisa, 7 anak kurang bisa dan 5 anak belum bisa dalam kegiatan yang melibatkan kemampuan fisik motorik halus anak dalam kegiatan membentuk dengan berbagai media disekitarnya. Menanggapi permasalahan tersebut, guru mencoba menggunakan metode pembelajaran yang lebih bervariasi supaya pembelajaran menjadi menyenangkan dan menarik minat anak untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak. Salah atu kegiatan yang dapat digunakan yaitu kegiatan membentuk dengan berbagai media.

Laporan Penelitian dan Analisis TPA
Laporan Penelitian dan Analisis TPA
Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Anak
Melalui Kegiatan Membentuk Dengan Berbagai Media
Di Taman Penitipan Anak (TPA)

Kegiatan membntuk dengan berbagai media diharapkan mampu mengatasi hal tersebut. Kegiatan ini akan lebih menyenangkan karena menggunakan bahan-bahan tradisional yang tersedia dapat dijadikan media yang lebih menarik dan tidak membosankan. Dalam kegiatan ini anak akan diajak bermain membentuk membuat suatu karya, sehingga anak tidak akan merasa bosan dan tanpa terasa fisik motorik anak akan terstimulasi dengan baik. Kegiatan membentuk dengan berbagai media dapat melatih motorik halus anak sekaligus mengembangkan kreativitasnya. Oleh karena itu, kegiatan membentuk dengan berbagai media diharapkan mampu memberikan pengalaman belajar yang lebih bervariasi dan menstimulasi kemampuan motorik halus anak dalam beraktifitas sehari-hari . 

Berdasarkan uraian di  atas, maka peneliti menyusun judul ”Mengingkatan Kemampuan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Membentuk Dengan Berbagai Media Di Taman Penitipan Anak (TPA) XXXXXX Desa ZZZZZZZ Kecamatan BBBBBB Kabupaten Lombok Timur”.

Fokus Penelitian, Setelah diadakan observasi disalah satu ruang kelas Taman Penitipan Anak (TPA) XXXXXX Desa ZZZZZZZ Kecamatan BBBBBB Kabupaten Lombok Timur maka penelitian ini difokuskan pada salah satu kegiatan anak yaitu meningkatkan kemampuan motorik halus anak di TPA XXXXXX Desa ZZZZZZZ Kecamatan BBBBBB. Doc : Laporan Penelitian dan Analisis PAUD

Tujuan penelitian, Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu: untuk mengetahui peningkatan kemampuan motorik halus anak di TPA XXXXXX Desa ZZZZZZZ Kecamatan BBBBBB Kabupaten Lombok Timur.

Manfaat penelitian, ini antara lain :
1. Bagi pendidik
  • menambah pengetahuan dan informasi bagi para pendidik di TPA XXXXXX dalam mengembangkan motorik halus anaK
  • Melatih guru dalam melakukan tindakan dalam membentuk anak melalui berbagai media
  • Mengembangkan kemampuan guru dalam menganalisis suatu kegiatan anak di lembaga TPA XXXXXX
2. Bagi lembaga TPA
  • Adanya kegiatan analisis mengenai peningkatan kemampuan motorik halus anak  dapat dijadikan referensi peningkatan kualitas pembelajaran di TPA
  • Dengan adanya penelitian ini lembaga termotivasi akan untuk membentuk melalui berbagai media
  • Penelitian ini sangat bermanfaat untuk kegiatan membentuk dapat melatih motorik halus dan kreativitas anak yang sesuai dengan usia anak.
3. Bagi Anak didik
  • Pemberian kegiatan membentuk dapat melatih motorik halus dan kreativitas anak. 
  • Anak senang sekali menggunakan berbagai media yang diterapkan oleh guru.
  • Anak bisa bereksplorasi dengan membuat berbagai macam bentuk 
  • Dengan kegiatan membentuk dengan berbagai media anak merasa senang sekali bermain bersama temannya.

ANALISIS KRITIS, Dari data tersebut, kegiatan pengembangan membentuk dengan menempel dengan kertas lipat yang dilakukan di TPA XXXXXX sudah berjalan sesuai dengan pengembangan motorik halus yang ada. Metode demonstrasi yang digunakan dalam pengembangan ini juga tepat, sehingga anak mampu memahami langkah-langkah dalam menempel dengan kertas lipat. Kemampuan guru dalam menyampaikan dan mengorganisasikan kelas juga sudah cukup baik. Terbukti anak antusias dan semangat dalam mengikuti kegiatan menempel bentuk kapal dengan kertas lipat. Kegiatan membentuk dengan menempel dengan kertas lipat ini ditujukan dengan harapan agar kemampuan motorik halus anak meningkat, melatih ketelitian dan kemandirian anak, serta melatih koordinasi mata dan tangan anak.

Kegiatan pembelajaran menggunakan memdi sentra kegiatan. Ruang-ruang sentra tertata dengan rapi dan sehat dengan ventilasi yang baik dan penerangan baik karena di bagian depan dipasang kaca, jumlah murid standar sehingga memudahkan guru untuk menilai proses kegiatan belajar mengajar.

Kegiatan awal yang dilakukan oleh pendidik TPA XXXXXX dengan tanya jawab dan apersepsi terlebih dahulu sebelum kegiatan inti dilaksanakan. Secara umum, TPA XXXXXX telah melakukan kegiatan yang baik dan terarah. Kegiatan tersebut telah disusun sedemikian rupa, sehingga mendapatkan hasil yang optimal.

Kesimpulan, berdasarkan hasil penelitian yang telah di lakukan dapat di tarik kesimpulan bahwa :
  1. Penggunaan media membentuk yang di terapkan di TPA XXXXXX ZZZZZZZ dapat meningkatkan kemampuan motorik halus anak di TPA XXXXXX Desa ZZZZZZZ Kecamatan BBBBBB Kabupaten Lombok Timur.
  2. Metode serta prilaku guru dalam menyampaikan materi merupakan kunci efektifnya proses belajar mengajar di TPA XXXXXX Desa ZZZZZZZ Kecamatan BBBBBB Kabupaten Lombok Timur.

Sumber/Peneliti :  QUDSIAH dengan judul :  MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS ANAK MELALUI KEGIATAN MEMBENTUK DENGAN BERBAGAI MEDIA DI TAMAN PENITIPAN ANAK (TPA). Untuk mendapatkan file lengkapnya silahkan unduh DISINI atau dibawah ini


Senin, 04 Mei 2020

Laporan Penelitian dan Analisis KB

Pendidikan adalah hak warga negara,tidak terkecuali pendidikan anak usia dini merupakan hak warga negara dalam mengembangkan potensinya sejak dini. Bardasarkan  berbagai penelitian bahwa anak usia dini merupakan  pondasi yang baik dalam mengembangkan kehidupan dimasa depan. Perkembangan berpikir anak usia Taman Kanak-kanak atau Pra Sekolah juga yang disebut dengan masa keemasan (golden age) berkembang sangat pesat. Perkembangan intelektual anak sangat pesat terjadi pada kurun waktu usia nol sampai usia pra sekolah. Masa usia Taman Kanak-Kanak itu dapat disebut sebagai masa peka belajar. Dalam  masa-masa ini segala potensi kemampuan anak dapat dikembangkan secara optimal, tentunya dari bantuan orang-orang yang berada di lingkungan anak-anak tersebut, misalnya dengan bantuan orang tua dan guru. Salah satu kemampuan anak yang sedang berkembang pesat saat usia taman kanak-kanak adalah kemampuan berbahasa.

Penguasaan berbahasa sangat erat kaitannya dengan kemampuan kognitif anak. Sistematika berbahasa anak menggambarkan sistematikanya dalam berpikir. Perkembangan berbahasa  anak usia taman kanak-kanak memang masih jauh dari sempurna, namun demikian potensinya dapat di rangsang lewat komunikasi yang aktif dengan menggunakan bahasa  yang baik dan benar. Kualitas berbahasa  yang digunakan orang-orang yang dekat dengan anak-anak akan mempengaruhi dalam keterampilan berbicara dan berbahasa dengan menggunakan bahasa Indonesia. Di KB Melati Pungkang Aikmel Barat guru merupakan salah seorang yang dapat mempengaruhi perkembangan berbahasa  anak. Guru taman kanak-kanak harus dapat mengupayakan berbagai strategi pembelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan berbahasa  anak. Baca juga Konsep KB dan Pendidikan Keluarga

Judul Penelitian "Upaya Meningkatkatkan Kemampuan Berbahasa Anak Kelompok B Melalui Kegiatan Bermain Peran  Di KB Melati Pungkang Desa Aikmel Barat Kabupaten Lombok Timur"
.
Pengembangan kemampuan berbahasa anak di KB Melati Pungkang Aikmel Barat Kecamatan Aikmel Kabupaten Lombok Timur merupakan prioritas dan merupakan tujuan dari sekolah. Namun pada kenyataannya masih banyak perma salahan yang  muncul dan  teridentifikasi dalam  pelaksanaan program tersebut. Permasalahan yang dapat teridentifikasi antara lain:1) hasil belajar yang kurang memuaskan pada kegiatan melipat; 2) anak pasif dalam kegiatan bercakap-cakap; 3) kurangnya kemampuan anak dalam berbahasa; 4) kurangnya kemampuan anak dalam berkomunikasi dengan teman.

Dari keempat masalah yang teridentifikasi tersebut maka permasalahan yang akan dipecahkan adalah kurangnya kemampuan anak dalam berbahasa menggunakan bahasa indonesia. Hal ini dapat terlihat dari data  bahwa dari beberapa anak  yang bisa aktif dalam kegiatan  sementara sebagian orang yang lainnya mengalami permasalahan. Penyebab dari masalah tersebut adalah kemungkinan metode yang digunakan guru dalam kegiatan  pembelajaran  kurang  tepat. Masalah kurangnya kemampuan anak dalam berbahasa dapat diupayakan dengan menggunakan metode yang tepat yaitu metode bermain peran, dengan menggunakan metode bermain peran diduga sangat efektif dalam proses pembelajaran dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam  kemampuan berbahasa, dengan  asumsi proses yang baik akan membuahkan hasil yang baik pula.
Laporan Penelitian dan Analisis KB
Laporan Penelitian dan Analisis KB

Fokus Penelitian setelah diadakan observasi di KB Melati Pungkang Aikmel Barat maka penelitian ini difokuskan pada Upaya Meningkatkatkan Kemampuan Berbahasa Anak Kelompok B Melalui Kegiatan Bermain Peran di KB Melati Pungkang Desa Aikmel Barat Kecamatan Aikmel Kabupaten Lombok Timur
Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu: untuk mengetahui tingkat kemampuan berbahasa anak kelompok B di KB Melati Pungkang Aikmel Barat melalui metode bermain peran di KB Melati Pungkang Desa Aikmel Barat Kecamatan Aikmel Kabupaten Lombok Timur.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah di lakukan dapat di tarik kesimpulan bahwa :
  1. Melalui metode bermain peran dapat meningkatkan kemampuan berbahasa anak di KB Melati Pungkang Aikmel Barat Kecamatan Aikmel Kabupaten Lombok Timur.
  2. Melalui metode bermain peran memiliki dampak positif bagi perkembangan adalah kemampuan belajar  anak yang mampu berbahasa dengan dengan baik dilingkungan sekolah
  3. Melalui metode bermain peran juga berdampak pada aktifitas guru dan anak dalam proses pembelajaran lebih bersemangat di KB Melati Pungkang Aikmel Barat Kecamatan Aikmel Kabupaten Lombok Timur.
Manfaat penelitian ini antara lain :
1. Bagi pendidik
  • Dapat mengetahui perkembangan anak didik dan dapat mengukur seberapa besar kemampuan yang telah dicapai oleh anak dan juga dapat mengetahui sejauh mana minat anak terhadap kegiatan bermain peran.
  • Dapat menambah wawasan tentang stimulasi yang tepat dalam merangsang dan meningkatkan minat anak dalam bermain peran
  • Dapat menciptakan beragam media dan kegiatan sesuai situasi dan kebutuhan dalam bermain peran.
2. Bagi lembaga KB
  • Dapat meningkatkan mutu pendidikan;
  • Menghasilkan anak didik yang kompeten;
  • Penelitian ini sangat bermanfaat untuk kegiatan membentuk membentuk kepibadian anak dan menjadi sarana bagi anak untuk berinteraksi sosial dengan teman-teman dan lingkungan sekolah.
  • Referensi pengembangan pembelajaran dalam mengoptimalkan kemampuan kegiatan belajar mengajar serta memperbaiki  proses  pembelajaran di sekolah
3. Bagi Anak didik
  • Pemberian kegiatan membentuk dapat melatih kemampuan berbahasa anak. 
  • Anak senang sekali menggunakan metode bermain peran yang diterapkan oleh guru.
  • Anak bisa bereksplorasi dengan berbagai peran 
Dengan kegiatan bermain peran dapat meningkatkan kemampuan berbahasa anak dalam kehidupan sehari-hari. Untuk melaksanakan pembelajaran khususnya dalam meningkatkan kemampuan dalam bentuk media hendaknya:
  1. Guru memerlukan persiapan yang cukup matang, sehingga guru harus mampu menentukan atau memilih topik yang benar-benar bisa diterapkan dengan model pembelajaran menggunakan metode bermain peran dalam proses belajar mengajar sehingga memperoleh hasil yang optimal. 
  2. Untuk meningkatkan kemampuan berbahasa guru sebaiknya menggunakan metode bermain, peran karena anak berulang-ulang dalam menghafal kata atau kalimat yang disampaikan guru cukuf efektif meningkatkan kemampuan berbahasa bagi anak.
  3. Guru dapat menggunakan pencampuran metode seperti metode pendekatan emosional dengan anak agar penyampaian materi dapat berjalan dengan baik 
  4. Guru dapat meningkatkan latihan dan bimbingan bagi anak yang belum paham dalam berbahasa.
Sumber/Peneliti :  QUDSIAH dengan judul : Upaya Meningkatkatkan Kemampuan Berbahasa Anak Kelompok B Melalui Kegiatan Bermain Peran  Di KB Melati Pungkang Desa Aikmel Barat. Untuk mendapatkan file lengkapnya silahkan unduh dibawah ini

Sabtu, 02 Mei 2020

Kepuasan Kerja Mendorong Terciptanya Kinerja Pegawai Yang Berkualitas.

Manusia sebagai makhluk sosial memeiliki hasrat dalam memenuhi kebutuhan dan keinginannya semakin bervariatif dalam segala hal, sehingga dalam pemenuhannya perlu adanya bantuan dari berbagai pihak salah satunya adalah organisasi untuk merealisasikan kebutuhan dan keinginan yang ingin dicapai tersebut. Organisasi adalah kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan (Robbins,2006.h.4). Tujuan dari suatu organisasi harus memberikan arah dan jelas dan telah disepakati oleh seluruh personalia yang terlibat di dalamnya, organisasi ada yang memiliki tujuan berorientasi mencari keutungan (profit oriented) dan atau orientasi memberikan pelayanan (services oriented). 

Birokrasi memiliki tujuan memberikan layanan kepada masyarakat. Sebuah birokrasi akan berhasil atau tidaknya dalam memberikan layanan memiliki banyak faktor diantaranya faktor budaya, faktor individu serta faktor organisasi dan manajemen. Karenanya, dalam konteks teori organisasi, maka setiap organisasi, tidak terkecuali organisasi publik seperti birokrasi, peran pegawai sebagai aparat birokrasi sangatlah vital. Penyelenggaraan intansi pemerintahan tidak mungkin dapat mencapai tujuannya secara optimal tanpa pegawai yang merasakan kepuasan dan motivasi pegawai untuk mencapai tujuan organisasi. Karyawan merupakan aset organisasi yang sangat berharga yang harus dikelola dengan baik oleh organisasi agar dapat memberikan kontribusi yang optimal. 

Salah satu hal yang harus menjadi perhatian utama organisasi adalah kepuasan kerja para karyawannya dan motivasi, karena karyawan yang dalam bekerja mereka tidak merasakan kenyamanan, kurang dihargai, tidak bisa mengembangkan segala potensi yang mereka miliki, maka secara otomatis karyawan tidak dapat fokus dan berkonsentrasi secara penuh terhadap pekerjaannya. Kepuasan kerja pada dasarnya merupakan hal yang bersifat individual, setiap individual memiliki tingkat kepuasan kerja yang berbeda – beda sesuai dengan keinginan dan sistem nilai yang dianutnya (Handoko, 2001,h.192). Semakin banyak aspek dalam pekerjaannya yang sesuai dengan keinginan dan sistem nilai yang dianut individu, semakin tinggi tingkat kepuasan yang didapat. Demikian pula sebaliknya, semakin banyak aspek dalam pekerjaannya yang tidak sesuai dengan keinginan dan sistem nilai yang dianut individu, semakin rendah tingkat kepuasan yang didapat. Kepuasan kerja adalah keadaan emosional yang menyenangkan dengan bagaimana para pekerja memandang pekerjaan mereka. 

Kepuasan kerja mencerminkan perasaan seseorang terhadap pekerjaannya yang dapat terlihat dari sikap karyawan terhadap pekerjaan dan segala sesuatu di lingkungan pekerjaannya. Selain kepuasan kerja, perusahaan juga harus memperhatikan mengenai bagaimana menjaga dan mengelola motivasi pegawai dalam bekerja agar selalu tinggi dan fokus pada tujuan perusahaan. Menjaga motivasi karyawaan itu sangatlah penting karena motivasi itu adalah motor penggerak bagi setiap individu yang mendasari mereka untuk bertindak dan melakukan sesuatu. Orang tidak akan melakukan sesuatu hal secara optimal apabila tidak mempunyai motivasi yang tinggi dari dalam dirinya sendiri untuk melalukan hal tersebut. Robin mendefinisikan motivasi sebagai suatu proses yang menjelaskan intensitas, arah dan ketekunan seorang individu untuk mencapai tujuannya. Dari definisi tersebut dapat dicermati bahwa motivasi menjadi bagian yang sangat penting yang mendasari individu atau seseorang dalam melakukan sesuatu atau mencapai tujuan tertentu yang diinginkan. 
Kepuasan Kerja Mendorong Terciptanya Kinerja Pegawai Yang Berkualitas

Masalah motivasi pada perusahaan haruslah dijadikan sebagai perhatian yang serius dalam Manajemen Sumber Daya Manusianya. Perusahaan -perusahaan modern dewasa ini haruslah menjadikan karyawan sebagai aset, bukan lagi hanya sebagai alat produksi semata. Untuk itu perusahaan perlu menciptakan suatu kondisi yang kondusif yang dapat membuat karyawan merasa nyaman, terpenuhi kebutuhannya, sehingga diharapkan motivasi mereka juga tetap terjaga untuk bersama sama mencapai visi dan misi perusahaan. Kondisi - kondisi kondusif itu bisa bermacam - macam, tergantung pada karakteristik perusahaan itu masing masing. Tapi secara umum diantaranya dapat berupa fasilitas yang disediakan, tingkat kesejahteraan yang memadai, jenjang karir yang jelas, peluang aktualisasi diri, kenyaman dan keamanan dalam bekerja, jaminan hari tua dan lain lain.

Dalam buku Sumber Daya Manusia kinerja karyawan adalah tingkat terhadap mana para karyawan mencapai persyaratan-persyaratan pekerjaan. Peran sumber daya manusia manusia (SDM) mempunyai kedudukan yang sangat penting, yaitu mempertahankan dan mengelola organisasi agar mampu tetap bertahan hidup,. Hal tersebut berdasarkan pemikiran bahwa sumber daya manusia sebagai salah satu faktor kinerja yang menjadi unsur utama menghasilkan hasil pekerjaan dari berbagai aktivitas dalam organisasi. Kinerja sendiri adalah tingkatan pencapain hasil atas pelaksanaan tugas tertentu. Menurut Tjandra (2005,h.38) kinerja didefinisikan sebagai tingkat pencapaian hasil serta merupakan tingkat pencapaian tujuan organisasi secara berkesinambungan. Suatu organisasi baik pemerintah maupun swasta dalam mencapai tujuan yang ditetapkan harus melalui sarana dalam bentuk organisasi yang digerakan oleh sekelompok orang yang berperan aktif sebagai pelaku dalam mencapai tujuan organisasi yang bersangkutan. Peran sumber daya apartur pemerintah akan berakibat pada kinerja institusi pemerintah. Banyaknya persoalan kinerja yang menjadi sumber ketidakpercayaan masyarakat yang memiliki urusan dengan birokrasi. Banyaknya keluhan yang didapat dari pengguna jasa yang menyatakan bahwa kinerja organisasi publik adalah suatu proses keterlambatan administrasi dan kurang profesional, sehingga dalam praktek penyelenggaraan publik masyarakat sebagai pengguna jasa selalu menjadi korban.
Baca Juga : TERTIB ADMISNITRASI

Penyebab lain rendahnya kinerja pegawai negeri sipil di Indonesia adalah panjangnya sistem birokrasi dalam organisasi kepegawaian negeri. Sistem birokrasi yang seperti menyebabkan tidak efektifnya kerja PNS. Birokrasi PNS yang mengenal 9 golongan menimbulkan jika ada satu perintah harus melalui jenjang yang sangat panjang untuk sampai kepada pelaksananya. Menpan dan Reformasi Birokrasi berencana memangkas birokrasi ini dengan cara mengurangi jumlah golongan yang ada. Posisi staf yang selama ini diduduki oleh 2 juta PNS akan dididik untuk menjadi seorang menajer atau setingkat di atas staf. Jumlah staf yang sedemikian banyaknya telah membuat PNS banyak menganggur. Hal ini terjadi karena staf tidak memiliki kelulasaan untuk memutuskan atau untuk mengambil satu kebijakan maupun program kerja. Fenomena kepuasan kerja, motivasi dan kinerja pegawai organisasi di atas menjadi salah satu faktor yang menetukan keberhasilan sebuah organisasi menjadi kuat dan berjalan dengan baik. Pada dasarnya kepuasan kerja merupakan hal yang bersifat individu, setiap individu akan memiliki tingkat kepuasan yang berbeda sesuai dengan sistem nilai nilai yang ada pada dirinya. Hal itu disebabkan adanya perbedaan masing-masing individu, semakin banyak aspek-aspek dalam pekerjaan yang sesuai dengan keinginan individu tersebut, maka semakin tinggi tingkat kepuasan yang dirasakan, begitu pula sebaliknya. 

Aspek-aspek yang mempengaruhi kepuasan kerja yaitu aspek-aspek perasaan yang berhubungan dengan pekerjaan seperti upah atau gaji yang diterima, kesempatan pengembangan karier, hubungan dengan pegawai lainnya, penempatan kerja, jenis pekerjaan, struktur organisasi perusahaan, mutu pengawasan. Pegawai akan merasa puas atas kerja yang telah atau sedang dijalankan, apabila apa yang dikerjakan itu dianggapnya telah memenuhi harapannya, sesuai dengan tujuan ia bekerja. Apabila seorang pegawai mendambakan sesuatu, maka ia memiliki suatu harapan, dengan demikian ia akan termotivasi untuk melakukan tindakan ke arah pencapaian harapan tersebut, jika harapannya terpenuhi, maka ia akan merasa puas.

Dalam hal ini pegawai yang mendapatkan kepuasan kerja yang tinggi, diharapkan mempunyai kinerja yang tinggi pula. Peranan dan pengaruh motivasi dan kepusan kerja dalam menerapkan pelayanan publik yang professional, penulis memiliki ketertarikan untuk meneliti lebih lanjut yang berkaitan dengan kepusan kerja dan motivasi pegawai dalam menjalankan pelayanan publik yang professional. Dalam rangka analisis mengenai kinerja instansi publik ini, penulis memiilih untuk mengamati variabel kepuasan pegawai dan motivasi dengan harapan bahwa perbaikan kinerja dapat dilakukan setelah mengetahui motivasi dan kepuasan pegawai. Ada tiga dasar masalah dalam kinerja, yaitu rendahnya kinerja yang dicapai pegawai, tidak profesionalnya kinerja pegawai dalam memberikan layanan, dan nilai-nilai organisasi yang masih belum terumus dan menjadi pedoman dalam penyelenggaraan kinerja. Beberapa penelitian tentang kepuasan kerja dan motivasi pada kinerja menunjukkan bahwa berpengaruh positif dan signifikan pada kinerja.

Beberapa indikator yang digunakan dalam penelitian sebelumnya seperti kepuasan kerja, indikatornya adalah gaji, kenyamanan terhadap pekerjaan, penghargaan terhadap hasil kerja, kebermaknaan tugas, umpan balik terhadap tugas itu sendiri. Indikator motivasi seperti prestasi, pengakuan, tanggung jawab dan promosi jabatan. Sedangkan untuk variabel kinerja yang digunakan indikatornya adalah kualitas, kuantitas pekerjaan, waktu penyelesaian pekerjaan, kehadiran, kemandirian serta komitmen kerja. Indikator-indikator tersebut juga terlihat seperti adanya tunjangan kinerja sebagai reward, penghargaan kepada karyawan, lingkunga atau ruangan kerja yang nyaman, kesempatan berprestasi serta adanya promosi jabatan. Namun masih sedikit penelitian yang dilakuan tentang bagaimana motivasi sebagai variabel pemoderasi pengauruh antara kepuasan kerja pada kinerja.
Baca Juga : SISTEM PENGGUNAAN ANGGARAN PROGRAM KERJA

Kamis, 18 Juli 2019

Laporan PTK Kenaikan Pangkat dan PKB Guru

Laporan penelitian tindakan kelas ini saya susun dalam rangka pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB) dan untuk diajukan pada penilaian angka kredit guna kenaikan pangkat dari golongan IV/a ke IV/b yang telah saya laksanakan dari awal 2 Februari s/d akhir 30 April 2018. Untuk itu, penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi tingginya kepada :
  1. Bapak Moh. Zulkifliadi, S.Pd selaku kepala sekolah SDN 4 Aikmel yang telah memberikan Saran, Ijin dan pertimbangan terhadap pelaksanaan PTK selama kegiatan berlangsung. 
  2. Bapak H. Marwan,S.Sos.,M.Pd selaku Kepala Unit Dikpora Kecamatan Aikmel yang telah memberi pengesahan terhadap laporan PTK ini.
  3. Bapak/Ibu, Teman Sejawat yang telah memberikan kritik dan saran sehingga penulis termotivasi untuk melaksanakan program penelitian tindakan kelas  sebagai wujud meningkatkan pengembangan keprofesian berkelanjutan.
  4. Ibu Siti Aminah selaku Petugas Perpustakaan SDN 4 Aikmel yang telah membantu dalam mencari referensi penilitian sehingga hasil dari penelitian ini dapat disimpan di Perpustakaan Sekolah
  5. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan namanya satu persatu yang turut serta memberikan dukungan selama penulis menyelenggarakan penelitian hingga diseminarkannya penelitian ini. 

Akhirnya segala kebaikan yang telah diberikan kepada penulis dapat di jadikan pedoman dan motivasi yang tidak terhingga. Penulis telah berupaya semaksimal mungkin, namun kita tentu menyadari masih banyak kekurangan-kekurangan, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca sangat diharapkan. Semoga penelitian tindakan kelas ini nantinya dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dimasa yang akan datang.

Laporan PTK Pengembangan Profesi guru

Laporan penelituan tindakan ini berjudul Peningkatan Hasil Belajar IPA Tentang Energi dan Penggunaannya Melalui Pendekatan Kooperatif Model Jigsaw Pada Siswa Kelas IV SDN 4 Aikmel Tahun Pelajaran 2017/2018. Nah, Sebagai bentuk dari pengakuan legal formal tentang profesionalisme seseorang untuk melakukan berbagai tugas profesinya sesuai dengan standar kualitas yang telah ditetapkan, maka daalam tugasnya mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik, maka guru perlu melakukan penelitian tindakan guna mengingkatkan kinerjanya sebagai guru professional

Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil pendekatan kooperatif model Jigsaw yang dapat meningkatkan hasil belajar IPA tentang Energi dan Penggunaanya di kelas IV. Persoalan dalam pembelajaran IPA tentang Energi dan penggunaanya mendapat hasil belajar dengan rata-rata kelas yang belum mencapai KKM yang ditentukan. Maka peneliti mengambil kesimpulan bahwa metode pembelajarannya bermasalah. 

Berdasarkan persoalan tersebut peneliti melakunkan obeservasi/ pengamatan secara menyeluruh sehingga tertarik untuk melakukan penelitian tindakan kelas untuk menelaah dengan pendekatan koopertif model jigsaw guna memecahkan permasalahan sehingga nilai siswa mencapai terget KKM atau meningkat dari sebelumnya. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di Kelas IV SDN 4 Aikmel pada semester 2 (dua) tahun pelajaran 2017/2018 dengan siswa yang diteliti terdiri dari 21 siswa, terdiri dari 11 siswa laki-laki dan 10 anak perempuan. Penelitian dilaksanakan selama 3 bulan yaitu pada Februari 2017 s/d April 2018.

Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan dalam 2 siklus masing-masing siklus terdiri dari empat tahap yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap pengumpulan data, dan tahap refleksi. Metode yang digunakan adalah Pendekatan Kooperatif Model Jigsaw. Penggunaan metode tersebut dipandang lebih efektif dalam pembelajaran IPA pada kompetensi dasar energi dan penggunaanya. 

Dengan latar belakang data kondisi awal hasil belajar siswa yang lulus dengan nilai KKM 65 hanya 38,09% yang mencapai target. Kemudian setelah diupayakan perbaikan pembelajaran dimulai dari siklus I menunjukan ada tanda tanda peningkatan nilai sebesar 66,19% meskipun belum mencapai target KKM yang diaharapkan. Peneliti kembali melanjutkan upaya perbaikan pada siklus II hasilnya prestasi siswa semakin meningkat dengan nilai KKM sebesar 70,71%. Dengan demikian dengan pendekatan kooperatif model jigsaw yang diterapkan oleh peneliti mampu meningkatkan hasil belajar IPA tentang energi dan penggunaannya di kelas IV.

Kata Kunci: Kreatifitas Belajar. Kooperatif.  Model Jigsaw. Hasil Belajar

Ilustrasi Kasus Pembelajaran

Latar belakang masalah penelitian kami jelaskan sebagai berikut, Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal yang secara sistematik melaksanakan program bimbingan, pengajaran dan latihan membantu siswa agar mampu mengembangkan potensinya, baik yang menyangkut aspek moral-spiritual, Intelektual, emosional, maupun sosial. Sekolah Dasar merupakan institusi formal yang mempunyai tanggung jawab utama dalam memberikan pembelajaran dengan berbagai model pembelajaran yang diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar siswa. 

Kondisi nyata pada awal peneliti melakukan observasi pada kegiatan pembelajaran ilmu pengetahuan alam tentang energi dan penggunaannya di kelas IV di SDN 4 Aikmel pada semester II tahun pelajaran 2017/2018 menunjukan bahwa masih banyak siswa yang belum tuntas sesuai kriteria ketuntasan minimal (KKM) sekolah yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan obeservasi ini, peneliti mencatat dan mengidentifkasi beberapa hal yang terjadi pada kegiatan pembelajaran IPA. Hasil obeservasi yang dilakukan selama kegiatan pengamatan dijumpai beberapa sebagai berikut : 
  1. Siswa terlihat malas belajar dan suka bermain dalam kelas 
  2. Motivasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA masih sangat kurang 
  3. Hasil belajar siswa tidak memenuhi standar KKM yang diharapkan

Tidak puas dengan kondisi tersebut penulis selanjutnya mengadakan wawancara langsung dengan siswa, teman sejawat, dan kepala sekolah di lingkungan SDN 4 Aikmel dan para pemangku kepentingan diperoleh keterangan sebagai berikut : 
  1. Saya tidak berminat untuk belajar IPA karena terlalu sulit 
  2. Kurang berminat Bu Guru sarana belajar kita tidak lengkap 
  3. Faktor dari luar sebagian orang tua siswa kurang memperhatikan anak 
  4. Guru belum memanfaatkan secara maksimal penggunaan alat peraga
  5. Guru kurang mamahami metode dan model pembelajaraan yang tepat

Mata Pelajaran IPA untuk KD Energi dan penggunaannya telah ditetapkan KKMnya adalah 65. Namun dari 21 siswa yang ada, hanya 8 siswa yang mendapat nilai ≥ 65. Hal ini menjadikan pembelajaran dapat dikatakan tidak berhasil, sehingga perlu diadakan penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Diharapkan setelah penelitian berlangsung nilai rata-rata 62,62 pada awal pembelajaran dapat berubah menjadi 65 ke atas dikarenakan sudah menggunakan pendekatan kooperatif model Kooperatif Jigsaw dalam pembelajarannya. Begitu juga dengan motivasi siswa akan meningkat terhadap pelajaran IPA.

Penyebab rendahnya hasil belajar siswa bukan hanya berasal dari kegiatan pembelajaran di kelas, lingkungan masyarakat sekitar dan lingkungan keluarga siswa juga ikut berperan menyebabkan rendahnya hasil belajar siswa. Perhatian orang tua siswa terhadap belajar anaknya di tempat peneliti mengajar sangat kurang. Orang tua siswa rata-rata bekerja sebagai petani dan pedagang kecil di pasar sehingga bekerja sebelum anaknya berangkat sekolah. Keadaan ini menyebabkan pada saat berangkat sekolah siswa tidak ada yang memperhatikan kebutuhannya. Sehingga motivasi belajar kurang. Belum lagi pada malam hari siswa tidak dibiasakan untuk dibantu dalam belajar. Sehingga pada saat sekolah banyak siswa yang tidak mengerjakan pekerjaan rumahnya.

Sarana prasarana sekolah sebenarnya cukup memadai bagi terselenggaranya pendidikan yang baik. Suasana sekolah juga sangat kondusif pada saat aktifitas pembelajaran dilaksanakan. Ditinjau dari sisi proses pembelajaran di kelas, peneliti menyadari kesalahan-kesalahan yang peneliti lakukan. Antara lain penggunaan metode yang tidak sesuai, kurangnya kemampuan guru untuk menggali pengalaman siswa yang berhubungan dengan materi pembelajaran dengan fakta di lapangan yang sering dijumpai siswa, kurangnya penggunaan media sebagai proses adaptasi pengalaman siswa dengan konsep yang dipelajari, serta proses pembelajaran yang berpusat pada guru. Hanya masalah yang terkait dengan proses pembelajaran di kelas yang dapat peneliti perbaiki, untuk meningkatkan hasil belajar siswa peneliti menumbuhkan minat siswa terhadap pembelajaran IPA terlebih dahulu sehingga timbul perhatian dan rasa suka terhadap IPA. 

Penelitian tindakan kelas yang peneliti laksanakan difokuskan pada tumbuhnya minat siswa terhadap pembelajaran IPA sehingga hasil belajar dapat ditingkatkan. Untuk itu peneliti menerapkan metode kooperatif Jigsaw Kooperatif Jigsaw yang sering ditemui siswa dalam kehidupan sehari-hari. Perbaikan pembelajaran akan peneliti lakukan melalui pola penelitian tindakan kelas.
Agar permasalahan dapat dipecahkan, maka peneliti atau guru perlu melakukan tindakan yaitu melakukan pembelajaran model Kooperatif Jigsaw pada kelompok yang terdiri dari lima anak dipilih secara acak. Agar dapat meningkatkan motivasi siswa. Pada tindakan ke dua melakukan pembelajaran model Kooperatif Jigsaw pada kelomok kecil yang terdiri dari dua anak. Agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Tindakan pertama dan kedua dilakukan bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa.  

Identifikasi Masalah 
Dari sisi proses pembelajaran di kelas, peneliti menyadari kesalahan-kesalahan yang peneliti lakukan sehingga hasil belajar siswa tidak maksimal. Hasil identifikasi terhadap proses pembelajaran IPA yang peneliti laksanakan memperlihatkan beberapa permasalahan yang dialami oleh siswa, antara lain: 
1. Siswa kurang memperhatikan penjelasan guru 
2. Motivasi belajar siswa masih rendah 
3. Terdapat beberapa siswa bermaian saat guru menjelaskan
4. Siswa pasif dalam pembelajaran
Peneliti bersama kolaborator melakukan analisis terhadap penyebab timbulnya masalah tersebut dilihat dari peneliti atau pengajar, yaitu sebagai berikut :
  1. Pada awal pembelajaran guru belum dapat memfokuskan siswa 
  2. Guru belum mengajak siswa untuk aktif dalam pembelajaran 
  3. Guru belum memaksimalkan penggunaan alat peraga 
  4. Guru menyampaikan materi secara klasikal
  5. Guru dalam pembelajaran menggunakan metode yang kurang vareatif, sehingga siswa menjadi jenuh dalam pembelajaran.

Setelah berdiskusi dengan pengamat yang merupakan teman sejawat berdasarkan hasil observasi, penyebab permasalahan siswa dalam pembelajaran maka diambil beberapa tindakan yang merupakan alternatif pemecahan masalah adalah : 
  1. Pada awal pembelajaran guru menarik perhatian siswa dengan menggunkan alat peraga IPA
  2. Guru menggunakan alat peraga secara efektif
  3. Pada pembelajaran guru melibatkan siswa untuk aktif dalam belajar
  4. Dalam menyampaikan materi guru sebaiknya membimbing siswa untuk mencapai pemahaman tertentu dengan membuat kesimpulan 
  5. Dalam pembelajaran menggunkan berbagai macam metode sesuai kondisi anak pada saat pembelajaran berlangsung dan yang sesuai dengan materi yang diajarkan, sehingga pembelajaran akan menjadi efektif dan efisien. 

Agar tidak terjadi kesalahan dalam menafsirkan isi penelitian tindakan kelas ini maka peneliti membatasi permasalahan penelitian sebagai berikut: 
1). Metode kooperatif Jigsaw terbimbing. 
2) Media Sederhana. 
3). Minat belajar siswa dan 
4). Mata pelajaran IPA

Berdasarkan hasil obeservasi dan wawancara, analisis penyebab timbulnya masalah dan alternative tindakan pemecahan masalah diatas, maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut: “Apakah pendekatan kooperatif model Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar IPA tentang Energi dan Penggunaanya di kelas IV, SDN 4 Aikmel Tahun Pelajaraan 2017/2018” ?

Kesimpulan dan saran. Berdasarkan perbaikan pembelajaran yang sudah dilaksanakan di kelas IV semester 2 pada SDN 4 Aikmel dari analisis data dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif Jigsaw pada mata pelajaran IPA Pada Standar Kompetensi Memahami berbagai bentuk energy dan cara penggunaanya dalam kehidupan sehari-hari hasil prestasi siswa semakin meningkat. Dengan latar belakang data prestasi siswa yang lulus nilai KKM sebesar 38,09% kemudian setelah diupayakan perbaikan pembelajaran dimulai dari siklus I prestasi sudah meningkat menjadi 66,19% dilanjutkan lagi siklus II prestasinya semakin meningkat dengan kelulusan nilai KKM yaitu 70,71%. Persentase peningkatan data kondisi awal penelitian tindakan terjadi peningkatan siklus I yaitu 3,57% sedangkan pada siklus I ke siklus II peningkatan sebesar 4,52% dengan demikian model pembelajaran kooperatif Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Hasil yang selalu meningkat dari setiap siklusnya menandakan pembelajaran Standar Kompetensi Memahami berbagai bentuk energy dan cara penggunaanya dalam kehidupan sehari-hari dengan menggunakan pendekatan Kooperatif model Jigsaw dapat disimpulkan berhasil dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA tentang Energi dan Penggunaanya di kelas IV, SDN 4 Aikmel Tahun Pelajaran 2017/2018.
Saran, dengan keberhasilan perbaikan pembelajaran menggunakan model pembelajaran Kooperatif Jigsaw penulis menyarankan hal-hal sebagai berikut:
Bagi Guru
  1. Guru diharapkan dapat menerapkan penggunaan pembelajaran Kooperatif Jigsaw pada kompetensi dasar yang sama atau berbeda sesuai situasi dan kondisi. 
  2. Guru diharapkan dapat menguasai berbagai pendekatan dalam pembelajaran agar siswa lebih mudah dalam memahami dan siswa tidak jenuh atau bosan.
  3. Kreatifitasan guru sangat di perlukan dalam merancang pembelajaran dan melaksanakan kegiatan pembelajaran sehingga dapat meningkatkan prestasi hasil belajar siswa.
  4. Guna menunjang hasil penelitian yang optimal guru sebagai peneliti memerlukan keterlibatan teman sebaya dan sejawat sehingga hasil penelitian tindakan yang dilaksanakan dapat berjalan dengan baik
Bagi Sekolah 
  1. Hasil penelitian tindakan kelas ini dijadikan sebagai referensi untuk peningkatan prestasi hasil belajar siswa di sekolah pada umumnya 
  2. Sekolah dapat mempublikasikan hasil penelitian ini guna peningkatan kompetensi guru dan pengembangan profesi guru berkelanjutan.
Bagi Perpustakaan
  • Petugas perpustakaan sekolah diharapkan dapat menyimpan dengan baik sebagai bahan referensi bagi peneliti selanjutnya
Untuk medapatkan file lengkapnya unduh disini